Badai Matahari

Badai matahari terjadi ketika ada pelepasan seketika energi magnetik yang terbentuk di atmosfer matahari. Total energi yang dilepaskan setara dengan jutaan bom hidrogen berukuran 100 megaton.

Bumi

Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet yang ada dalam tata surya. Berjarak 149,6 juta kilometer dari matahari, dan hanya memiliki 1 satelit alami, yaitu Bulan.

Milky Way

Disebut juga sebagai Galaksi Bimasakti. Salah satu galaksi spiral yang ada di alam semesta. Terdiri dari 8 planet di dalamnya, yaitu: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Awan di Bumi

Ini adalah kenampakan awan yang terlihat dari bumi. Awan-awan indah seperti ini dapat dilihat di daerah sekitar Amerika.

Fur Fox Nebula

Nebula ini terletak di konstelasi Monoceros (Unicorn) dan termasuk dalam wilayah NGC 2264. Umumnya dikenal sebagai Cluster Pohon Natal.

Selasa, 12 Maret 2013

Kehidupan Bisa Dicari di Sekeliling Bintang Sekarat

Kehidupan mungkin saja ditemukan di tempat yang terduga, seperti di sekeliling bintang sekarat seperti bintang katai putih hingga di lingkungan yang berdekatan dengan lubang hitam.


Avi Loeb dari Harvard University dan Dan Maoz dari Tel Aviv University melakukan eksperimen dengan membuat spektrum buatan, menguji kemampuan teknologi teleskop di masa yang akan datang menemukan planet yang mendukung kehidupan.

Kedua peneliti itu melakukan simulasi pencarian parameter kehidupan (biomarkers) di luar angkasa berbasis teknologi teleskop luar angkasa James Webb Space Telescope (JWST) milik NASA yang akan diluncurkan beberapa tahun yang akan datang.

Hasil simulasi menunjukkan bahwa teleskop JWST mampu menangkap gambaran tentang beberapa tanda kehidupan seperti keberadaan oksigen (O2) dan juga keberadaan air (H2O) namun pada kondisi tertentu.

Kondisi yang dimaksudkan adalah kondisi dimana planet yang akan diamati berada pada posisi transit terbaik yang bisa dilihat melalui teleskop. Sinar yang dipancarkan oleh bintang induk saat menjadi latar belakang disaat planet transit tidak terlalu terang.

Cahaya bintang induk yang terlalu terang bisa mengganggu proses pengamatan, karena bisa ‘menghilangkan’ sinyal yang muncul dari planet tersebut. Teknik pengamatan planet pada saat transit seperti ini disebut teknik transmission spectroscopy.

Loeb dan Maoz berpendapat, pengamatan bisa dilakukan pada planet yang mengorbit pada bintang yang memasuki fase katai putih. Bintang katai putih adalah bintang dengan bobot rendah, kurang dari 8 kali bobot matahari kita, yang berada pada tahap akhir evolusinya.

“Mendeteksi pertanda kehidupan di atmosfir planet yang menyerupai Bumi disekitar bintang berukuran normal menggunakan JWST, bisa disebut sangat menantang jika tidak ingin disebut mustahil”, kata Maoz seperti dikutip Space, Kamis (28/02/2013).

“Kesulitan diakibatkan sinyal yang sangat lemah, yang tersembunyi dibalik cahaya bintang induknya. Kebaruan dari gagasan ini, seandainya bintang induknya katai putih, maka pancaran sinar dari bintang itu sudah sangat berkurang,” jelasnya.

Hingga saat ini memang belum ada satu pun planet yang mengorbit pada bintang white draft yang berhasil dideteksi. Akan tetapi, dengan menggunakan JWST, penemuan planet layak huni dan kehidupan di dalamnya bukanlah hal yang mustahil.

sumber : sains.kompas.com

Sabtu, 09 Maret 2013

Hartley 2: Komet yang Aneh


Komet Hartley 2, secara resmi dikenal sebagai 103P/Hartley, mengunjungi tata surya bagian dalam setiap 6,5 tahun. Komet ditemukan pada tahun 1986 dan menerima kunjungan dari misi NASA, EPOXI, pada tahun 2010. Hal ini diharapkan kembali pada bulan April 2017.

Meskipun sering berkunjung ke matahari, komet ini masih memiliki tubuh kecil yang sangat aktif. NASA menyebut Hartley 2 sebuah "komet sedikit aneh", dan satu astronom NASA menandai Hartley 2 sebagai "sebuah komet kecil yang hiperaktif, memuntahkan air lebih dari komet lainnya kebanyakan ukurannya."


Para ilmuwan mempelajari komet kecil yang telah meningkatkan kemungkinan bahwa komet lebih berperilaku dengan cara yang sama, terutama jika mereka membawa banyak karbondioksida atau monoksida dalam komposisi mereka.
Kunjungan Hartley 2 oleh EPOXI juga mengungkapkan beberapa penemuan ilmiah yang aneh, seperti "blok berkilauan" pada kedua ujung komet.


Tertangkap oleh sebuah kontrol berkualitas 

Hartley 2 dinamai penemunya, Malcolm Hartley, astronom yang bekerja untuk Siding Spring Observatory di New South Wales, Australia. Dia telah memegang beberapa peran di fasilitas selama bertahun-tahun, namun pada bulan Maret 1986 dia adalah seorang pengendali kualitas memeriksa akurasi gambar yang diambil oleh teleskop Schmidt.Pada tanggal 16 Maret tahun itu, ia melihat noda yang aneh di piring kaca fotografi. "Waktu itu, pengamatan datang negatif - bintang dan benda-benda lain di langit muncul hitam pada latar belakang yang jelas," kata Hartley dalam wawancara yang disiarkan oleh NASA pada tahun 2011.

"Saya melihat kabut gelap di sekitar jejak Trails dan menunjukkan sesuatu yang bepergian cepat melalui langit, tapi asteroid tidak memiliki kabut.. Jadi saya pikir mungkin komet."


Penemuannya telah dikonfirmasi oleh pusat planet minor International Astronomical Union beberapa hari setelah penemuan. Hartley menemukan setidaknya 10 komet lebih selama karirnya, sampai Siding Spring mengubah teleskop Schmidt ia digunakan untuk melakukan spektroskopi pada tahun 2002.

sumber : space.com

Ini Dia Foto Pertama Kelahiran Bayi Planet Alien

Kelahiran planet alien alias planet ekstrasolar berhasil diabadikan untuk pertama kalinya. Astronom berhasil mengabadikannya dengan Very Large Telescope di European Southern Observatory, Cile.


Foto menunjukkan gumpalan di sekitar piringan gas dan debu, di sekitar bintang HD 100546. Menurut astronom, gumpalan tersebut merupakan bayi planet gas raksasa, jenis planet seperti Jupiter yang merupakan terbesar di tata surya.

"Sejauh ini, pembentukan planet merupakan sesuatu yang biasa ditangani dengan simulasi komputer saja," kata Sascha Quanz, astronom dari ETH Zurich di Swiss, yang memimpin proyek ini, seperti dikutip Space, Kamis (28/2/2013).

"Jika penemuan ini memang planet yang sedang terbentuk, untuk pertama kali, ilmuwan bisa mempelajari bagaimana proses pembentukan planet serta interaksi planet yang sedang terbentuk dengan lingkungannya," tambahnya.

Bintang HD 10546, yang berada pada jarak 335 tahun cahaya dari Bumi, diketahui telah memiliki sebuah planet, berjarak 6 kali jarak Bumi-Matahari dari bintangnya. Sementara planet yang baru terbentuk ini punya jarak 10 kali lebih jauh dibandingkan saudaranya.

Foto menunjukkan bahwa proses pembentukan planet serupa dengan gambaran para astronom. Bintang terbentuk di awan gas dan debu. Setelahnya, material sisanya mengorbit bintang. Material ini yang berpotensi terbentuk menjadi planet.

Foto menunjukkan adanya struktur di piringan yang mengelilingi bintang, diduga terbentuk akibat interaksi material dengan planet yang sedang terbentuk. Data menunjukkan, gumpalan planet mengalami pemanasan, persis seperti hipotesis proses pembentukan planet.

Gambaran pembentukan planet pertama ini bisa didapatkan berkat instrumen optik NACO di Very Large Telescope. Instrumen menggunakan koronagraf spesial yang mengobservasi langit berbasis inframerah serta mampu menyaring terang cahaya bintang.

Observasi planet ekstrasolar merupakan wilayah astronomi yang kini berkembang. Sementara pencitraan proses kelahiran planet sendiri masih sangat baru. Hasil riset ini dipublikasikan di Astrophysical Journal, Kamis kemarin.

sumber : sains.kompas.com

Komet Pan-STARRS Capai Jarak Terdekat dengan Bumi


Untuk pertama kali dalam 110.000 tahun terakhir, komet Pan-STARRS memasuki wilayah dalam Tata Surya. Dan, hari ini adalah puncaknya. Komet ini mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi, "hanya" 147 juta kilometer dari Bumi.

Untuk menuju Bumi, komet Pan-STARRS menempuh jarak yang bukan main jauhnya. Saat ditemukan, jaraknya mencapai ratusan juta kilometer dari Bumi.

Komet ini ditemukan pada 6 Juni 2011 lewat pengamatan dengan teleskop Pan-STARRS di Haleakala, Hawaii. Saat ditemukan, magnitud komet hanya +19. Magnitud menyatakan kecerlangan benda langit. Jika negatif, benda langit sangat terang. Dengan magnitud +19, komet Pan-STARRS sangat redup.

Mencapai jarak terdekat dengan BUmi, logikanya komet ini bisa disaksikan dengan lebih jelas. Namun, ternyata tak demikian.

Analisis astronom amatir Gary W. Kronk seperti dipublikasikan di situs cometchasing.skyhound.com menyatakan bahwa hanya wilayah tertentu saja yang bisa menyaksikannya. Sejak Sabtu (2/3/2012) lalu, komet ini hanya tampak di wilayah 30 derajat Lintang Selatan.

Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan, waktu terbaik melihat Pan-STARRS dari wilayah ekuator seperti Indonesia bukan pada saat posisi terdekat dengan Bumi, tapi saat perihelion.

Perihelion adalah saat komet mencapai jarak terdekat dengan Matahari. "Simulasi terakhir menunjukkan kalau Pan-STARRS bakal membentuk ekor panjang, sepanjang paling tidak 5 derajat kala di perihelion," kata Ma'rufin lewat percakapan Facebook beberapa waktu lalu.

Perihelion akan dicapai Pan-STARRS pada Minggu (10/2/2013). Meski dikatakan akan tampak terang, magnitud pan-STARRS sendiri nanti hanya +2. Jadi, komet ini masih akan tampak redup.

Wilayah Indonesia sendiri sudah tak bisa melihat komet ini setelah 16 Maret 2013. Pertengahan hingga akhir Maret, giliran belahan utara Bumi yang bisa menyaksikan. Untuk soal pengamatan komet Pan-STARRS, Indonesia memang sedikit sial.

Walau begitu, beberapa foto telah berhasil diabadikan. Astrofotografer Luis Argeric. Ia berhasil menangkap citra komet ini dari Buenos Aires dengan magnitud +4 minggu akhir Februari lalu. paling tidak, foto komet itu bisa mengobati jika keinginan melihat nanti tak terwujud. 

sumber : sains.kompas.com

Senin, 04 Maret 2013

Ekspedisi Antartika Ungkap Meteorit Raksasa Baru


Batu luar angkasa ditemukan di Antartika. Ukuran batu meteorit tersebut cukup besar. Beratnya mencapai 18 kg.

Tim ilmuwan dari Belgia dan Jepang menemukan meteorit itu saat menjelajahi wilayah dataran tinggi di bagian timur Antartika. Identifikasi awal yang dilakukan menunjukkan bahwa meteorit itu ialah jenis chondrite, jenis meteorit paling umum yang ditemukan.

"Ini adalah meteorit terbesar yang ditemukan di Antartika timur dalam 25 tahun terakhir," kata Vinciane Debaille, geolog dari Universitas Brussels.

"Ini sesuatu yang sangat istimewa. Ketika kau menemukan meteorit di Bumi, ukuran sebenarnya jauh lebih besar saat masih di antariksa," tambahnya seperti dikutip Livescience, Kamis (28/2/2013).

Setiap tahun, banyak ilmuwan mencari meteorit di Antartika. Lingkungan bersalju, dingin, dan ikllim kering membantu mengawetkan batuan antariksa itu.

Ekspedisi Debaille sendiri berhasil menemukan 425 meteorit dalam 40 hari. Total berat meteorit yang berhasil dikumpulkan mencapai 75 kg. Menurut Debaille, timnya mungkin menemukan meteorit Mars dan meteorit pecahan asteroid Vesta.

sumber : sains.kompas.com

Kamis, 28 Februari 2013

Mars Mungkin Sudah Bisa Dihuni Saat Ini


Planet Mars saat ini memungkinkan untuk dihuni. Pernyataan itu diungkapkan para peneliti bidang astrobiologi yang menghadiri konferensi The Present-Day Habitability of Mars yang diprakarsai oleh NASA Astrobiology Institute bersama UK Centre for Astrobology pada 4 -5 Februari lalu di University of California Los Angeles.

Pada konferensi ini, dipresentasikan berbagai hasil penelitian yang berkaitan dengan kemungkinan menempati Planet Mars sebagai habitat baru. Berbagai bukti dan fakta hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi Planet Mars saat ini memungkinkan untuk ditinggali.

"Kita tidak mungkin dapat mengabaikan kemungkinan bahwa saat ini Mars memungkinkan untuk ditempati," ujar Alfred McEwen dari University of Arizona, yang juga investigator kepala untuk kamera HiRise pada wahana Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA seperti dikutip Space.com, Senin (25/2/2013).

McEwen menyebutkan, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan HiRise, ada 16 lokasi lereng yang teridentifikasi mengalirkan brine water (air yang mengandung garam) di kompleks ngarai Valles Marineris di planet merah itu.

Teknisi Caltech, Edwin Kite, menambahkan adanya kemungkinan terjadinya proses deliquescence yang ikut "bertanggung jawab" pada munculnya cairan di permukaan Mars. Proses deluquescene yang dimaksud adalah proses ketika uap air yang ada di atmosfer dikumpulkan oleh senyawa tertentu yang ada di daratan, yang mengubah uap air itu menjadi cairan.

Namun, temuan McEwen ini masih perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui apakah air garam yang ditemukan bisa ditempati oleh mikroba, baik mikroba yang berasal dari Mars maupun Bumi.

Fakta lain yang mendukung adalah adalah jenis-jenis mikroba yang mampu hidup pada lingkungan ekstrem yang menyerupai kondisi di Mars. Adalah Chris McKay dari Ames Research Center NASA di Moffett Field, California, yang memberikan contoh yang mendukung hal tersebut.

Ia mencontohkan keberadaan mikroba yang hidup di Gurun Atacama, Amerika Selatan, dan lereng kering di Antartika, yang mampu hidup pada kondisi ekstrem dingin dan kering. Mikroorganisme di kedua tempat tersebut mengembangkan mekanisme tertentu untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Organisme yang hidup di lereng kering di Antartika beradaptasi dengan menggali ke dalam batuan, tidak terlalu dalam, tetapi cukup untuk melindunginya dari sinar UV dan tetap memungkinkan untuk melakukan fotosintesis.

McKay juga mendukung fenomena delisquence. Ia menemukan fenomena yang sama terjadi di Gurun Atacama. Di gurun tersebut, garam-garam yang ada di permukaan tanah mengumpulkan uap air sampai terbentuk aliran air yang cukup untuk menyokong kehidupan di gurun tersebut. Karenanya, ia menyarankan pada teknisi yang bekerja di proyek Mars rover Curiosity NASA agar memberikan perhatian khusus pada garam yang mungkin ditemukan dalam penjelajahannya.

Alasan lain yang mendukung kemungkinan Mars dapat ditinggali adalah adanya sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan. Sumber energi alternatif yang dimaksud adalah senyawa perklorat.

Careol Stoker, pakar dari NASA Ames, mengatakan, perklorat dapat digunakan sebagai sumber energi potensial untuk mikroba kemoautotrof. Ia menekankan bahwa senyawa kimia itu bisa digunakan sebagai sumber energi untuk kelanjutan hidup mikroba yang hidup di bawah permukaan Mars yang gelap saat fotosintesis tidak mungkin dilakukan. Kemoautrotof adalah kelompok mikroba yang menggunakan senyawa kimia untuk menyusun makanannya.

Stoker menambahkan, beberapa jenis mikroba di Bumi juga menggunakan perklorat sebagai makanan mereka.

sumber : sains.kompas.com

Senin, 25 Februari 2013

Mars Aslinya Berwarna Abu-Abu


Selama ini manusia sering kali beranggapan warna Mars adalah merah karena tampak merah dilihat dari Bumi. Namun, anggapan itu ternyata tak sepenuhnya benar.

Warna merah Mars ternyata hanya sebatas permukaan saja. Fakta ini terungkap dari hasil pengeboran batuan Mars yang dilakukan oleh robot penjelajah Mars milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Curiosity.

Serbuk batu hasil pengeboran batuan dasar Mars yang dilakukan Curiosity mengungkapkan warna planet tersebut di bawah permukaan adalah abu-abu. 

"Kami mulai melihat adanya warna baru dari Mars saat ini. Hal ini menarik perhatian kami," ujar Joel Hurowitz, peneliti sistem sampling Curiosity di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Pasadena, California, kepada Space.com, Rabu (20/2/2013).

Peneliti berpendapat, warna merah diakibatkan oleh kandungan besi pada debu Mars yang mengalami oksidasi atau perkaratan.

Pengeboran memungkinkan ilmuwan mendapatkan debu dengan kandungan besi yang belum mengalami oksidasi. Penyimpanan dalam wadah yang terpasang di wahana antariksa Curiosity mencegah proses oksidasi tersebut.

Sebagaimana diketahui, Curiosity berhasil mengebor batu bernama John Klein untuk kali pertama, pada 8 Februari 2013 lalu. 

Pengeboran hingga kedalaman 6,4 cm dibuktikan dengan citra yang dirilis NASA pada Rabu lalu. Analisis serbuk batu nantinya diharapkan dapat menguak kandungan debu Mars serta misteri lingkungan basah Mars pada masa lalu.

sumber : sains.kompas.com